ep
u
b
hk
am
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
In
do
ne
si
a
putusan.mahkamahagung.go.id
R
Kedokteran Gigi Nomor: 7155/UN6.F.2/TU/2015 tanggal 24 November
2015 perihal Hasil Identifikasi Umur a.n Yusman Telaumbanua, terdapat
bahwa
hasil
pemeriksaan
terhadap
ng
penjelasan
Sdr.
Yusman
Telaumbanua pada tanggal 16 November 2015 menyimpulkan Estimasi
usia pasien Yusman Telaumbanua berdasarkan metode dental adalah
gu
18,4 – 18,5 tahun, yang ditunjang dengan metode sinus paranasal dan
Hand Wrist. (Bukti P- 1)
ah
A
2.
Bahwa
berdasarkan
ilmu
kedokteran
forensik,
untuk
mengidentifikasi usia seseorang (identifikasi primer) dapat dilakukan
melalui 3 cara, yakni melalui Sidik Jari, DNA dan/atau Gigi. Namun
ub
lik
pemeriksaan melalui sidik jari ataupun DNA memiliki kelemahan
dikarenakan struktur DNA ataupun sidik jari dapat mengalami perubahan
am
pada kondisi – kondisi tertentu, seperti tubuh terbakar atau tenggelam,
sementara metode identifikasi melalui gigi tidak mengalami perubahan
ep
dikarenakan struktur gigi yang sangat keras dan dapat bertahan dalam
ah
k
suhu 500 – 900 derajat celcius, dan berdasarkan keilmuan hampir tidak
pernah ditemukan kondisi gigi yang sama persis antara individu satu
In
do
ne
si
R
dengan individu lainnya. Dengan demikian, pemeriksaan dengan
menggunakan sampel struktur gigi dan tulang atau yang lebih dikenal
A
gu
ng
dengan nama Radiologi Forensik lebih akurat dan menjadi standar
internasional
yang
digunakan
oleh
ilmu
mengidentifikasi umur seseorang;
3.
kedokteran
untuk
Bahwa dalam pemeriksaannya terhadap Pemohon yang dilakukan
pada tanggal 17 November 2015, Tim Kedokteran Gigi Universitas
Padjajaran telah melakukan 3 (tiga) kali pemeriksaan, yakni:
lik
Metode Al – Qahtani yakni dengan melakukan pemeriksaan gigi untuk
melihat usia tumbuh kembang gigi (erupsi, mahkota lengkap dan akar
lengkap) dan Metode Van Hardeen untuk melihat tumbuh kembang akar
ub
m
ah
Pertama, Pemeriksaan Analisa Radioidentifikasi Panoramik dengan
mesial gigi molar 3 (tiga) rahang bawah.
ka
Kedua, Pemeriksaan Radioidentifikasi Cephalometry yang digunakan
ep
dengan Metode Schaffer atau Sinus Paranasal untuk membandingkan
ah
jarak Sinus Maksilaris, Frontalis, Sphenoid dengan Table Schaeffer atau
ini sudah dikenal lama sejak tahun 1936, sebagai suatu alternatif untuk
ng
M
mengidentifikasi estimasi usia seseorang jika dianggap masih terdapat
on
Hal. 22 dari 47 hal. Put. Nomor 96 PK/Pid/2016
In
d
A
gu
keraguan dengan pendekatan tumbuh kembang tulang fasial/wajah.
es
R
secara sederhana digunakan untuk melihat perkembangan sinus. Metode
ik
h
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)
Halaman 22
Select target paragraph3
Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents